Edukasi · Kesehatan · Sekedar Info... · Uncategorized

Cegah Generasi Stunting Demi Terwujud Indonesia Sehat

Stunting. Pernah dengar istilah itu? Kalau kita coba cari terjemahannya di google translate, akan keluar kata ‘pengerdilan’. Maksud dari stunting di sini adalah kegagalan dalam pertumbuhan bayi atau balita. Pernah lihat anak-anak kurus, lesu, pendek, tidak ceria, terlihat kekurangan gizi? Nah itu bisa disebut stunting. Sedih banget ya liat anak-anak seperti itu. Stunting ditandai dengan berat badan yang tidak naik atau cenderung turun selama 2 bulan berturut-turut.

Stunting sendiri bukanlah suatu penyakit tapi gejala dari suatu penyakit yang harus dicari dan diatasi penyebabnya. Parameter pertumbuhan anak dan balita adalah berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala yang menandakan perkembangan otak. Jadi, jika tubuh tidak bertumbuh dan berkembang dengan optimal maka perkembangan otak juga jadi terhambat. Hal ini akan mempengaruhi kecerdasan otak anak.

Berdasarkan ‘Reducing Stunting in Children’ yang dipublikasikan WHO  (World Health Organization) tahun 2018, sebanyak 22.9% atau 154.8 juta anak-anak balita di dunia mengalami stunting pada tahun 2016. Kurang lebih 87 juta diantaranya, tinggal di Asia. Menurut Pemantauan Status Gizi (PSG) tahun 2017, prevalensi stunting di Indonesia ada sebesar 29,6%. Padahal, WHO membatasi masalah stunting di setiap negara, provinsi, dan kabupaten sebesar 20%. Hanya ada dua provinsi dari 34 provinsi di Indonesia yang sudah memenuhi target dari WHO tersebut yaitu Yogyakarta (19,8%) dan Bali (19,1%).

Masalah stunting adalah masalah serius bagi negara karena jika generasi bangsanya adalah generasi stunting, generasi tidak cerdas dan tidak terampil, maka akan sulit bersaing dengan negara lain. Negara kita Indonesia raya tercinta ini, jumlah angka kelahirannya masih cukup tinggi sehingga penduduknya amat sangat banyak dan tersebar di 34 provinsi, baik di urban area maupun di rural area. Nah diperkirakan pada tahun 2030-2040 negara kita akan mengalami bonus penduduk, maksudnya, karena jumlah kelahiran yang banyak sekarang ini, maka pada tahun tersebut, anak-anak yang dilahirkan saat ini akan mengalami usia produktif. Tau dong, usia produktif adalah masa-masa di mana seorang manusia bisa berkembang dan berkontribusi secara maksimal untuk negaranya. Apa jadinya kalau generasi kita nanti stunting? Jelas akan sulit untuk bersaing secara global dan mungkin akan menjadi beban ekonomi negara. Inilah yang menjadi perhatian pemerintah dalam mencegah dan mengatasi stunting di negeri ini, melalui pesan ‘Cegah Stunting itu Penting’ seperti yang disampaikan dalam Kampanye Nasional Pencegahan Stunting di Monumen Nasional pada 16 September lalu. Pemerintah mengharapkan prevalensi stunting di Indonesia dapat menurun menjadi 28% di tahun 2019.

cegah stunting
Kampanye ‘Cegah Stunting itu Penting’ sumber:www.sehatnegeriku.kemkes.go.id

 

Lalu, apa saja gejala stunting?

  1. Berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala tidak sesuai dengan grafik pertumbuhan yang disarankan WHO
  2. Kesulitan dalam perkembangan motorik kasar maupun halus
  3. Memiliki gangguan pada ketrampilan fisik seperti duduk, berguling, dan berdiri atau berjalan
  4. Lesu, sering mengantuk, rewel, mudah marah pada balita

 

Apa penyebabnya?

Pada dasarnya, stunting disebabkan oleh kurang baiknya asupan gizi, terutama pada 1000 hari pertama kehidupan bayi yaitu pada saat di dalam kandungan selama 270 hari dan 730 hari yang berarti sejak lahir hingga usia 2 tahun. Usia ini merupakan usia ‘emas’ dalam tumbuh kembang anak. Sanitasi yang buruk dan kemiskinan juga berhubungan dengan status gizi.

Pola asuh yang kurang baik juga menjadi penyebab stunting. Banyak ibu yang kurang perhatian dengan status gizi anaknya. Si ibu tidak memberikan ASI (Air Susu Ibu) eksklusif selama 6 bulan pertama, memberikan ASI semaunya (tidak maksimal), tidak memberikan makanan pendamping ASI yang tepat, tidak memberikan suplemen makanan yang sesuai untuk bayi dan anaknya, dan kurangnya pengetahuan ibu mengenai tumbuh kembang anak. Berdasarkan data Pemantauan Status Gizi pada tahun 2017, ibu di Indonesia yang memberikan ASI eksklusif hanya 35,7%, angka yang rendah dibanding standar WHO yaitu 50%.

Apabila asupan nutrisinya sudah sesuai tapi tetap terjadi stunting, maka penyebab yang mungkin adalah adanya gangguan pada penyerapan nutrisi, iritasi usus, alergi atau kelainan anatomi bawaan, atau bisa jadi adanya penyakit yang membutuhkan kalori tinggi seperti infeksi paru kronik atau penyakit tiroid. Hal ini harus diatasi secepatnya agar tidak berkelanjutan.

 

Stunting bisa dicegah?

Edukasi kepada remaja perempuan, ibu hamil dan ibu menyusui sangat penting dalam pencegahan stunting ini. Kenapa remaja? Usia remaja adalah persiapan sebelum memasuki usia produktif. Terjadinya kehamilan bisa pada saat remaja dan usia produktif.

Status gizi ibu hamil sangat penting untuk mencegah lahirnya generasi stunting. Ingat kan, bahwa 1000 hari pertama kehidupan bayi dimulai sejak dia mulai menempel di dalam rahim. Harus waspada anemia agar semua organ tubuh berjalan dengan baik, jangan sampai kurang kalsium agar ibu dan bayi tulangnya kuat, jangan sampai kurang makronutrient maupun mikronutrien. Ibu hamil juga harus menjaga kebersihan.

Setelah bayi lahir, segera berikan ASI, meskipun jumlah ASI masih sedikit. Segera setelah melahirkan, kelenjar susu akan mengeluarkan zat yang disebut dengan colostrum, suatu cairan yang berwarna kekuningan dan pekat yang mengandung anti mikroba alami yang akan menstimulasi sistem kekebalan untuk bayi dan mengandung zat untuk pertumbuhan serta perbaikan jaringan. Selain itu colostrum mudah dicerna dan menjaga saluran pencernaan bayi yang masih sangat rentan.  Bayi yang menerima colostrum akan lebih kuat daya tahan tubuhnya, nggak heran deh kalau colostrum disebut sebagai “superfood for baby”.

Air susu ibu dapat mencegah stunting karena di dalamnya terkandung banyak sekali zat-zat yang dibutuhkan bayi. Kandungan ASI akan menyesuaikan kebutuhan si bayi sesuai usianya, dapat diserap dengan baik, dan aman untuk saluran pencernaannya. Berikan ASI secara benar dan tepat. Manajemen laktasi sangat penting untuk dapat memberikan ASI terbaik, perlekatan menyusui yang baik, dan mencegah puting lecet. Menyusui akan sangat nyaman jika manajemen laktasinya baik. Pemberian ASI disarankan hingga 1000 hari pertama kehidupan bayi usai.

Ibu hamil dan ibu menyusui harus banyak makan sayur, buah, karbohidrat, protein hewani dan nabati, juga lemak. Sumber protein hewani merupakan sumber yang paling dibutuhkan untuk mencegah stunting. Ada banyak ragamnya lho, dan nggak melulu harus merogoh kantong dalam-dalam. Sebut saja ikan dan telur yang kaya omega 3.

Bayi dengan usia di atas 6 bulan, harus diberikan makanan pendamping ASI atau MPASI yang bergizi karena ASI saja sudah tidak dapat mencukupi kebutuhan gizinya. Tekstur MPASI juga harus sesuai dengan usianya. Bayi makanannya ASI dan berlanjut dengan MPASI yang bertekstur cair-lembek agar sistem pencernaan bayi dapat beradaptasi, mudah diserap dan tidak terjadi sembelit.

Pada beberapa kondisi, bayi juga membutukan suplemen makanan. Misalnya zat besi, yang diharapkan dapat mencegah anak mengalami ADB atau anemia defisiensi besi. Zat besi dibutuhkan tubuh untuk membentuk sel-sel darah merah yang nantinya dapat mengikat oksigen dan menghantarkannya ke organ-organ penting dalam tubuh. Suplemen zinc atau seng juga dibutuhkan untuk meningkatkan daya tahan tubuh anak agar tidak mudah sakit.

Deteksi dini stunting sangat perlu untuk selanjutnya diobservasi dan diatasi penyebabnya. Stunting dapat diatasi sebelum anak usia 2 tahun, meskipun bisa juga hingga 5 tahun tapi keberhasilannya sedikit. Pantau terus parameter pertumbuhan anak, yaitu berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala setiap bulan. Jika dalam dua bulan pengukuran berturut-turut tidak mengalami kenaikan atau malah menurun, segera konsultasikan kepada tenaga kesehatan.

menkes cegah stunting
Mari kita cegah stunting sedini mungkin sumber: www.sehatnegeriku.kemkes.go.id

Seperti kata ibu Menteri Kesehatan Prof. Dr. dr. Nila F. Moeloek, cegah stunting sedini mungkin untuk Indonesia sehat.

 

 

sumber:

http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/topik/rilis-media/

http://www.who.int/nutrition/publications/severemalnutrition/reducing-stunting-children-equity/en/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s