Cerita ibu · Pengalaman di Negeri Sakura · Sekedar Info... · Uncategorized

Popok kain vs popok sekali pakai, pilih yang mana?

Sebagai ibu baru, aku belum banyak tahu tentang ilmu merawat bayi, termasuk dalam memilih popok untuk bayiku. Sebenernya, bagus mana sih antara popok kain atau popok sekali pakai untuk bayi?

collage-2017-12-21

Awal bayiku baru lahir, aku disarankan ibu untuk memakaikan popok kain. Kasihan katanya. Kasihan kalo dipakein popok sekali pakai atau disposable diaper (baca:pampers, mami poko, sweety, dan semacamnya). Aku nurut sama ibuku. Yang namanya bayi baru lahir, pipisnya sering, buang air besar (bab)-nya sering. Kebayang dong ganti popok tiap kali basah atau bab. Belum lagi celana dan bedong yang ikutan basah. Tiap pagi panen cucian. Kalau popok kain ada bab-nya, harus disikat pake sabun batang dan direndam semalaman. Suamiku yang tiap pagi bantu aku nyuci. Aku masih belajar menyusui, butuh istirahat biar asinya banyak, jahitan belum sembuh, dan ngurus si kecil sendiri, jadi jarang bisa nyuci popoknya. Awal-awal masih nyuci secara manual pake tangan, sampe suamiku hampir masuk angin hehehe love you ayah sayang makasih ya. Akhirnya nyuci pakai mesin cuci khusus buat baju bayi. Lumayanlah ngirit tenaga buat ngucek. Kegiatan ini berlangsung selama satu bulan lebih.

Setelah satu bulan lebih, kami gantian tinggal di rumah orang tua yang satunya, ya, mertuaku. Di sana ada asisten rumah tangga yang siap melayani semua pekerjaan rumah, termasuk mengurus bayi. Adek iparku yang tinggal di rumah itu juga punya bayi yang selisih umurnya beda 4 hari dengan bayiku.

Awal-awal di sana, kami tetap idealis memakaikan popok kain. Melihat kami yang selalu kerepotan, ibu mertua menyarankan untuk pakai diaper. Meskipun asisten rumah tangga ibu mendukung kami untuk pakai popok kain, tapi akhirnya kami nurut, biar semuanya nyaman. Ternyata, kakak iparku juga kalau di rumah ibunya, anaknya dipakaikan popok kain tapi kalau di rumah ibu mertua anaknya dipakaikan diaper. Wow, nyaman sekali yak baik orang tua maupun si bayi kalau pakai diaper tapi nggak nyaman di kantong haha…

 

Balik ke topik awal, bagus mana ya popok kain atau popok sekali pakai (disposable diaper)?

Kita lihat kelebihan dan kekurangan masing-masing ya

Kelebihan popok kain

  1. Mengurangi sampah dan menjaga lingkungan. Yes, meskipun nggak 100 persen karena tetap pakai sabun dsb tapi dengan popok kain, kita tidak menambah jumlah sampah rumah tangga. Popok kain bisa dicuci dan dipakai lagi dan bisa disimpan untuk si adeknya nanti.
  2. Bayi akan merasa risih saat popoknya basah, lengket atau apa pun yang membuatnya nggak nyaman. Dan, dia pun menangis. Hal ini akan membuat bayi jadi tahu rasa ‘ketidaknyamanan’
  3. Bahan kain yang lembut akan membiasakan bayi untuk selanjutnya nanti bisa pakai celana dari kain.
  4. Hemat uang. Nggak perlu keluar duit setiap bulan untuk beli diapers

Kekurangan popok kain

  1. Repot. Ya! Repot karena banyak cucian, harus sering diganti saat basah atau terkena kotoran untuk mencegah ruam kulit. Belum lagi kalau kotorannya susah disikat. Harus direndam pakai pemutih pakaian atau penghilang noda pakaian. Belum lagi kalau ompolnya ke mana-mana, kena di baju dan suka salah timing. Dikira aman nggak pipis karena barusan pipis, eh eh pipis lagi deh.
  2. Butuh popok kain yang banyak biar nggak ‘kejar tayang’. Punya bayiku ada 56 pcs hahaha banyak banget kan. Butuh pakaian bawah (baca: celana) yang banyak juga.
  3. Butuh ketersediaan air yang cukup banyak karena cucian selalu banyak. Susah juga kalau daerahnya kurang air bersih ya

 

Kelebihan popok sekali pakai

  1. Ya, sangat nyaman! Baik untuk si bayi maupun orang tuanya. Apalagi kalau diapernya pakai yang extra dry. Bahkan butuh air hangat untuk ngilangin kotoran yang nempel di pantat saking keringnya (kalau kotorannya sedikit).
  2. Nggak banyak cucian kotor. Ini cocok banget buat yang lagi traveling, kurang ketersediaan air bersih, nggak ada matahari misalnya pas musim dingin atau pas musim hujan.
  3. Otomatis praktis. Pakai, tinggal buang setelah beberapa jam atau setelah penuh. Cocok banget buat membantu si ibu yang belum pulih pasca melahirkan atau saat ibu sedang sakit dan butuh istirahat.

Kekurangan popok sekali pakai

  1. Boros uang. Ini jelas ya butuh alokasi dana khusus untuk beli diaper. Nggak heran para emak-emak pada suka diskonan.
  2. Kalau pakai diaper terus, nggak kebayang banyaknya sampah rumah tangga. Betapa sedihnya ada yang buang sampah di kali atau di sungai, dengan mitos bahwa kalau nggak gitu nanti pantat bayinya gatal-gatal. Hiks hiks, sedih banget masih ada yang begitu. Ini baru Jogja ya, di daerah lain mungkin lebih banyak lagi orang-orang yang belum teredukasi dengan baik tentang sampah. Padahal, sebenarnya sampah diaper harus dibakar. Dan konon, sampahnya butuh ratusan tahun untuk terurai.
  3. Ruam popok. Adanya kemerahan pada kulit bayi yang terkena diaper. Hal ini disebabkan oleh lembabnya diaper. Cara mengatasinya adalah dengan mengoleskan cream anti ruam popok dan mengganti diaper setiap 3 jam sekali.
  4. Ada bahan kimia yang terkandung di dalamnya. Disposable diaper mengandung sodium polyacrylate yang berdaya serap tinggi. Ada kulit bayi yang sensitif dan iritasi setelah menggunakan diaper. Meskipun demikian, semua bahan kimia yang ada dalam diaper diyakinkan dalam batas aman menurut para pakar kesehatan. Teknologi yang semakin maju juga dapat menciptakan diaper dari bahan yang lebih aman untuk bayi.
  5. Bayi akan merasa nyaman selama diaper tetap kering sehingga sensitivitasnya terhadap rasa nyaman tidak sama dengan bayi yang tidak pakai diaper (menurut pendapatku)

 

Bagaimana dengan di luar negeri?

Kalau di Jepang, sama seperti di sini, ada yang memakaikan popok kain seperti clodi yang ada perekatnya dan juga popok sekali pakai. Apalagi yang tinggalnya di belahan bumi utara seperti kota Sapporo di Pulau Hokkaido yang musim dinginnya lama, sering hujan salju, susah mau nyuci popok kain. Mereka memakaikan popok sekali pakai untuk bayinya sejak lahir hingga bisa toilet training. Pengelolaan sampah di Jepang sudah lebih baik dari pada di Indonesia.  Cerita dari temanku yang punya balita yang dititipkan di day care sana (makasih sharingnya mama Pasha Hannan),  di sekolah anak keduanya, si Hannan, semua anak dipakaikan popok kain yg ada perekatnya. Setiap hari dikumpulkan dan dicuci oleh petugas demi cinta lingkungan. Mungkin mereka malas untuk mengurus sampah diapers. Mereka menghindari kotoran menumpuk di diapers dan jadi sarang bakteri. Gitu katanya. Hebat ya padahal disana gampang banget lho, tinggal masukin plastik khusus pemerintah yang bertuliskan burnable, dan cukup dipisahkan dari sampah rumah tangga yang lain. Tapi ada day care yang tetap memakaikan popok sekali pakai untuk anak-anak yang dititipkan. tergantung kebijakan pengelolanya.

……..

Menurut opiniku yang masih belajar ini, semuanya baik-baik aja mau pakai popok kain maupun popok sekali pakai (diaper) asal semua dilakukan secara bijaksana. Bisa membuang sampah diaper dengan baik. Kalau bayi sudah makan makanan padat dan kotorannya padat, buang dulu kotorannya di kloset toilet baru diaper dibuang ke tempat sampah. Jika menggunakan popok kain, pisahkan popok yang basah oleh urin dengan pakaian yang lain dan gunakan air serta detergen khusus bayi secara bijaksana. Intinya adalah selalu jaga kebersihan dan bayi bebas iritasi atau ruam popok. Baca tulisannya mbak Dini di sini, dia mengulas dengan bijaksana.

 

Bagaimana dengan bayiku?….

Setelah dua minggu si bayi pakai diaper terus dan orang tuanya nggak pernah nyuci popok maupun baju karena udah dicuciin sama asistennya ibu (sejuuuk, kipas-kipas, hahaha), kami terlanjur dimanjakan. Sangat dimanjakan heheee. Pulang lagi ke rumah ibu, bayiku kembali ke popok kain atau clodi (cloth diaper). Tapi kali ini popok kain hanya day time kalau malam pakai diaper sampai pagi. Cucian terasa berkurang meskipun jelas masih lebih banyak dari pada kalau pakai diaper all day hhaaha. Udah gitu di rumah ibu nggak ada asisten, jadi tiap hari olah raga nyuci baju si bayi. Pilihanku tetap pada sebisa mungkin popok kain setelah temanku nyeletuk “coba bayangin kamu pake pembalut terus, nyaman nggak”. Temanku berhasil memakaikan popok kain terus saat day time untuk kedua anaknya yang masih kecil-kecil, tanpa asisten. Anak sulungnya sudah bisa toilet training saat umurnya 2 tahun meskipun faktor keberhasilannya bukan hanya karena popok kain. Aku berharap bayiku juga bisa cepat toilet training-nya nanti. Mau pipis mau bab bisa ngasih kode.

Selain itu, semangat go green selagi mampu, hehee..

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s