Cerita ibu · Isi hati · Pengalaman di Negeri Sakura · Uncategorized

Secuil Kisahku Untuk Para Pendamba Momongan

Semoga tulisanku ini sedikit bisa membantu menambah semangat teman-teman yang sedang dan masih berjuang memiliki keturunan. Sekedar sharing apa yang aku alami.

Aku menikah 17 September 2010. Waktu itu aku dan suami hanya bertemu sekitar 2 minggu sebelum akhirnya suamiku pergi ke Jepang untuk studi master di sana. Januari 2011 aku datang ke Jepang untuk menemani suami. Harapanku di sana aku bisa langsung hamil., seperti layaknya pasangan menikah lainnya yang 3 bulan kumpul aja jadi hehee. Tapi ternyata aku salah. Nggak semuanya terjadi seperti yang aku mau. Lima bulan berselang, kuputuskan untuk berobat ke dokter kandungan di Kumamoto, kota kecil yang kami tinggali waktu itu. Meskipun dokternya agak terheran-heran karena kami yang masih baru nikah ini belum ada pekerjaan tetap, kami tetap semangat program anak. Waktu itu disuruh tes basal temperature. Tiap pagi dicek suhu tubuhnya, dicatat di buku, untuk tau masa subur. Tau lah ya, yang udah pernah pasti juga merasa ‘bosan’ dengan rutinitas itu. Bangun tidur tiap pagi yang dicari termometer dulu hahaa.. Setelah itu sama dokter dicek spermanya, pasca senggama. Jadi dokter akan mengambil cairan dari wanita dan dicek sperma yang ada di situ. Hasilnya baik. Terus, aku disarankan HSG (hysterosalpingography) untuk tahu apakah ada sumbatan di saluran telur, dan, aku nggak mau. Promil berhenti di situ. Tiap mens aku nangis dan kecewa, apalagi tiap tau ada yang hamil, ugghh rasanya malah sedih, baper, sensitif, dan semacamnya. Pasti taulah ya yang ngalamin hehehe..

Pulang Indonesia September 2012. Sekitar tahun 2013 kami mulai lagi program anak. Kami mencoba di klinik Adinda Yogyakarta, sama dokter Dyah Rumekti, Sp.OG. Di sana dicek keadaan sel telurku dengan penambahan hormone clomifen citrat. Alhamdulillah sel telurku besar dan bagus. Terus dilakukan HSG. Tadinya aku nggak mau, akhirnya aku mau demi kebaikan bersama. Aku cek HSG di Pramita Lab klinik Yogyakarta. Kalo nggak salah inget harganya 750.000 rupiah. Hasilnya, ada sumbatan di saluran telurku sebelah kanan. Suami juga dicek sperma. Hasil sperma bagus, sama dr. Dyah diberi anti oksidan aja. Dari hasil HSG, dokter Diah bilang kalau kemungkinanku hamil alami ‘cuma’ 50% aja, jadi kalau mau cepet ya inseminasi buatan. Setelah itu, kami putuskan untuk stop di dokter Diah, dan ganti ke dokter lain, yaitu dr. Yasmini, Sp.OG di RS JIH (Jogjakarta International Hospital). Sebenernya ganti dokter Yasmin karena aku ada fasilitas askes Inhealth dan bisa digunakan di JIH waktu itu dan salah satu dokter perempuan yang bagus ya dr Yasmini. Sama dokter Yasmin di cek posisi rahim, dan normal. Inget waktu itu, pas nunggu antrian, ada mbak-mbak yang juga antri dokter kandungan. Ngobrol-ngobrol, beliau belum nikah, cuma mau menanyakan masalah kewanitaan aja. Oleh mbak itu, aku disarankan untuk hujan-hujanan sama suami, terus berhubungan. Yang dikepalaku kok malah  masuk angin ya habis itu hehehe. Dan, dia menyarankan bekam. Ternyata dia bisa bekam. Ngobrol ini itu sampai akhirnya aku dipanggil antrian dokter. Terima kasih ya mbak sarannya, tapi maaf ngga kami lakukan, hehehe..

Aku inisiatif tes TORCH (Toxo, Rubella, CMV (cytomegalovirus), Herpes simplex, HIV) sendiri. Tes lab ini cukup mahal, kalau nggak salah inget, di Pramita Yogya harganya 1,5 juta sepaket lengkap. Hasil tesnya aku konsulkan ke dokter Yasmin. Immunoglobulin G (IgG) ku untuk CMV tinggi artinya aku dulu pernah terinfeksi CMV dan sekarang punya antibodinya. Juga IgG untuk Rubella. Ya, kata ibuku waktu kecil aku sering banget kena sakit campak. Alhamdulillah Toxo negatif. Kata dr Yasmin bagus hasilnya. Setelah baca HSG ku, dia sarankan untuk treatment membuka saluran dengan cara hydrotubasi (terapi tiup). Berhubung nggak di-cover askes inhealth, aku melakukan treatment-nya di RSIA Sadewa di Babarsari. Dr Yasmin sendiri yang melakukannya. Waktu itu suamiku udah di Jepang lagi, di kota Sapporo di pulau Hokkaido untuk studi doktor. Kata dokter Yasmin, kalau bulan depan belum hamil, bisa ditiup lagi, sampai tiga kali. Dalam hati aku bilang ya nggak hamil dok suami saya udah di Jepang. Jadilah aku ditiup dua kali, sampe aku dijemput suamiku bulan September 2014.

Mulai lagi hidup merantau, jauh dari pertanyaan kapan punya anak hehehe.. Waktu itu udah diniati nggak mau program lagi, nggak mau mikirin soal anak lagi, berharap bisa dapet alami. Kehamilan tak kunjung tiba. Tamu bulanan yang tak diharapkan selalu datang. Oke, aku alihkan pikiranku buat yang lain. Dengan izin Allah, aku bisa sekolah juga di sana, dapat beasiswa on going. Lumayan banget bisa buat tambah tambah dan bayar biaya entrance. Alhamdulillah aku sangat menikmati sekolah master di sana. Ikut semua kegiatan, aktif, ke sana ke mari, seneng pokoknya banyak temen dan pengalaman. Banyak yang ngira aku belum nikah, apalagi punya anak hahaa..

Bulan Maret 2016 kami pulang seminggu untuk menghadiri pernikahan adek kami di Yogyakarta. Waktu balik ke Sapporo, kami bawa lagi hasil-hasil lab keperluan berobat program anak yang dulu sengaja ngga di bawa. Kenapa dibawa? Ya, siapa tau mau program lagi.

Aku lupa kenapa dan kapan tepatnya kami memulai program lagi. Yang aku ingat, sekitar akhir Juli 2016 kami putuskan mulai program lagi sebelum pulang Indonesia akhir Maret tahun depannya. Waktu itu kami minta bantuan interpreter (penerjemah bahasa Jepang ke Inggris) bernama SEMI (Sapporo English Medical Interpreter), suatu organisasi non profit yang bertugas membantu orang asing yang kesulitan berobat di Sapporo. Pertama, kami disarankan ke M’s ladies clinic. Disana kami tunjukkan semua hasil lab selama program hamil di Indonesia. Sama dokter disarankan langsung ke klinik infertilitas aja. Dia menyebutkan nama beberapa klinik. Waktu itu kami diskusi dan memutuskan untuk maju. Kamiya klinik yang akhirnya kami tuju karena klinik itu terkenal banyak berhasil membantu pasangan yang ingin punya anak. Sampe sana, ketemu dokter kandungan dan kalimatnya bikin aku rada gimanaaa gitu. Dia bilang mungkin selama 6 tahun ini sperma suami dan sel telur istri belum pernah ketemu., jadi kalau mau nyoba, ada 3 pilihan, yaitu bayi tabung atau IVF (in vivo fertilization), inseminasi, dan operasi untuk membuka saluran telurku yang lengket. Hah? Logis juga sih mungkin selama ini sel telur dan sperma belum pernah ketemu. Pilihan kedua, kemungkinan berhasilnya kecil sedangkan pilihan ketiga takutnya malah tetep nggak bisa atau malah luka. Dokter nggak tau apa penyebab buntunya, malah bisa jadi sejak dulu kala udah begitu anatominya.

Pilihan utama adalah bayi tabung. Dokter menyarankan untuk segera dimulai soalnya kami akan pulang bulan Maret 2017. Untuk estimasi biaya, kami diminta menyiapkan sekitar 60 atau 70 jutaan. Biaya yang mirip dengan di negara kita kan? Oke, pertimbangannya adalah waktu dan kudu siap fisik, mental, materi. Siap bahwa program ini akan berhasil atau gagal, dan jika gagal biaya yang sudah dikeluarkan nggak bisa balik. Fisik, jelas harus kuat karena disuntik-suntik, ambil darah hampir tiap kunjungan. Bulan September akhir kami juga akan pindah asrama kampus yang lumayan jauh dari kampus kalau jalan kaki. Setelah itu musim dingin, salju, yang berarti aku harus siap-siap jalan pelan di atas salju membawa janin dalam kandungan. Galau maju atau enggak. Suamiku bilang, dia melihat aku sangat nyaman dengan semua fasilitas kesehatan di Jepang, kalau mau nyoba, ayo maju, tapi terserah aku karena aku yang harus minum obat, ambil darah, suntik ini itu. Cari mantab lewat sholat istikhoroh. Kami harus memutuskan segera. Seminggu sebelum batas program dimulai, aku mantabkan program bayi tabung. Soal biaya, suamiku yang urus dengan semua estimasi pendapatan (beasiswa maksudnya hehee) yang akan didapat. Di tengah kesibukan studi di tahun terakhir kami ingin mencoba lagi…

Ternyataaa… begini rasanya pasangan yang melakukan bayi tabung. Pertama-tama harus dilakukan screening darah, termasuk HIV dan semua hormon. Alhamdulillah hasilnya baik, hanya hormon prolaktinku yang sedikit di atas normal. Mungkin ini salah satu penyebab medis aku sulit hamil. Berbagai macam obat diberikan dokter dan dibuatkan jadwal minumnya sampai egg collection (EC)-(pengambilan sel telur). Suntik hormon dilakukan beberapa hari sebelum egg collection. Ada enam kali suntik, suamiku yang nyuntik dengan sabar. Aku merasa sangat bersyukur punya suami yang baik, sabar dan mendukung semua keputusanku. Waktu hari kelima suntik, kami harus pindah ke asrama., dan, semua yang urus suamiku. Kami harus numpang dulu di rumah temen kami. Alhamdulillah ada kamar meskipun penuh barang-barang. Hari terakhir suntik, aku nangis sejadi-jadinya terharu sama kesabaran suamiku. Dia pasti lelah nyiapin barang pindahan dan mindahin barang lagi di tempat yang baru. Untung temenku nggak tau aku nangis hehee. Untuk Vecky, Rani, Maryam terima kasih banyak atas semua kebaikan kalian. Dan, terima kasih atas izinnya kami boleh bermain dengan Maryam bayi kalian yang cantik banget.

Hari pengambilan sel telur datang. Aku minta untuk dibius total, karena ini operasi kecil pertamaku. Di sana, harga EC 36 jutaan. Alhamdulillah dapet 10 sel telur. Lebih tepatnya 9 sel telur. Lima sel telur akan dipertemukan dengan sperma suami dengan metode ICSI (intracytoplasmic sperm injection) yaitu sperma terbaik dipertemukan dengan bantuan dan sisanya metode biasa yang hanya dibiarkan bertemu alami di dalam media. Oya, untuk mulai program ini kita wajib menyerahkan bukti surat nikah lho, jadi di Jepang syar’i ya harus suami istri.

Kami sepakat untuk menanamkan embrio yang sudah menjadi blastocyst yang sudah siap untuk tumbuh di dalam rahim, itu artinya waktu kultur yang dibutuhkan adalah enam hari. Setiap hari, Kamiya klinik kirim email perkembangan embrio kami. Dari 9 itu, jumlah yang berhasil bertahan hingga kultur hari keenam ada 1 embrio saja. Embrio itu disimpan selama satu periode haidku, karena aku dikhawatirkan terkena OHSS (ovarian hyperstimulation syndrome) yang sangat berbahaya.

Bulan November 2016 aku dijadwalkan untuk embrio transfer (ET). Sebelum ET, aku minum berbagai obat yang harus diminum untuk menyiapkan kondisi rahim sebelum ditempeli embrio sehingga kondisi rahim dibuat seolah ‘siap’ hamil. Sebelum memasuki ruangan untuk ET, kami diberi penjelasan terlebih dahulu oleh embryologist. Embrio yang akan ditanam jumlahnya 1, stage blastocyst. Meskipun bukan termasuk yang excellent, tapi memenuhi prosedur untuk dilakukan tindakan ET. Proses ET berjalan cepat. Dokter memasukkan embrio selama sekitar 2 menit aja setelah yakin embrio yang dimasukkan adalah milikku dan suamiku. Sebelum keluar ruang operasi, dokter yang kami panggil Sensei itu, mengucapkan good luck semoga berhasil, seraya memberi kode, usaha kami, usaha bidang kedokteran canggih hanya sampai di sini. Selebihnya tubuhmu yang akan melakukan proses selanjutnya, Tuhan yang akan mengatur selanjutnya. Setelah keluar ruangan, aku disarankan berbaring selama 20 sampai 30 menit. Seharusnya waktu itu boleh aja tidur, tapi aku ngga bisa tidur,, yang ada hanya air mata terus mengalir sambil memandangi sekitar dan gorden pink di klinik itu.

Pulang dari klinik kami naek taksi. Waktu itu Sapporo sudah mulai turun salju. Alhamdulillah hari itu berjalan lancar dan menyenangkan. Seminggu setelahnya, aku harus kontrol ambil darah untuk cek kadar beta hcg. Selama seminggu itu aku ngga disuruh bedrest tapi aku hanya aktivitas yang wajar aja, ke kampus, kadang naek taksi. Hari Sabtunya, kami berdua akan ujian TOEFL, kami naek taksi pulang pergi. Naek taksi di Jepang itu mahal hehehe, tapi ngga apalah demi janin di rahim. Suamiku juga semangat beli test pack alat tes kehamilan yang isinya 2 biji. Selama 6 tahun nikah, kami baru beli test pack 3 biji, dan belum berhasil semua hehee. Ini test pack keempat.

Hari kontrol pun tiba. Paginya, suamiku coba cek dengan test pack ada dua garis , yang satu samar. Ah, tetep optimis siapa tau berhasil. Dan, strip test itu pun difoto dan disimpan. Sampe di klinik, darahku diambil. Beta HCG ku, hormon tanda kehamilan ada di angka 50 mlU/mL. Sensei bilang kalau angka ini tidak baik, ada dibawah normal, tapi masih ada kemungkinan bisa naik, yang artinya berhasil hamil, jadi seminggu lagi dicek kadarnya. Feelingku nggak karuan, tapi harus siap dengan semua hasilnya. Akhirnya, hari itupun tiba. Perasaanku udah ngga enak duluan. Dan, bener aja, kadar beta hcg nya turun, Sensei menyatakan program IVF gagal. Blastocyst yang ditanam akan keluar dengan sendirinya bersama haid di bulan Desember. Setelah itu aku bisa mulai program lagi. Kami ditawari untuk mengulang program tapi kami nggak sanggup. Aku sekuat tenaga menahan air mata biar nggak jatuh. Alhamdulillah nggak nangis di dalam klinik. Sampe rumah, kami cuma bisa pelukan. Rasa syukur bisa melewati dan menjalani semua proses IVF di sini. Sedih? Jelas sedih. Kami diskusi berdua gimana caranya biar nggak mikirin anak, karena kami yakin pasti Allah Tahu kami belum siap dengan adanya anak saat ini. Nanti kalau memang sudah waktunya, insya Allah bisa hamil dan punya anak. Berbekal baca artikel di dunia maya dan kudapati ada beberapa orang yang beruntung berhasil hamil alami setelah gagal IVF, kami pun move on. Kami berniat jalan-jalan ke Tokyo silaturahim ke rumah sepupuku. Klik, tiket pesawat murah pun terbeli untuk dua orang.

Jumat 9 Desember, di toilet kampus, aku haid. Bulan Januari aku nggak dapet haid, ah mungkin karena hormonnya belum stabil, pikir kami. Kami disibukkan dengan berbagai keperluan kelulusan sekolah. Waktu tahun baru, aku dapet rezeki jadi tour guide membelah pulau Hokkaido, mengawal 20 orang turis dari Indonesia. Terima kasih ya Allah rasanya ada pengalih perhatian biar ngga mikir soal anak. Bulan Februari ngga haid juga, sampe akhirnya suamiku minta aku untuk test dengan sisa strip test di rumah.,tapi aku ngga mau, hehehe. Perjanjiannya, setelah maju sidang 7 Februari, kami akan cek sendiri. Hari rabu tanggal 8 Februari, kami cek dengan test pack. Betapa kagetnya kami, melihat ada dua garis merah yang sangat jelas. Langsung deh dibandingin sama yang dulu itu, yang masih disimpan. Wah beda banget. Dibaca lagi berkali-kali arti dari dua garis merah itu, seakan nggak percaya atas apa yang kami lihat di depan mata… setelah 6 tahun lebih baru lihat ada dua garis merah begini. Teorinya sih, hamil.

Kalau nggak salah, siang itu juga atau besok Kamisnya kami ke klinik, klinik di mana pertama kali kami ke sana untuk konsul. Kebetulan hari itu nggak boleh ada kaum lelaki, jadilah suamiku ‘diusir’ hehehe. Ketat ya. Ngga bisa nunggu lama, harus dicek hari itu, pengen tau beneran hamil atau enggak.

Hasilnya? Ada janin umur 7 minggu di rahimku sampe bu dokternya kegirangan, dikira ini hasil IVF program tapi aku bilang IVF nya gagal. Dan, aku dinyatakan natural pregnancy. Allahu akbar. Aku dah speechless. Nangis? Enggak. Udah nggak tau deh rasanya. Antara percaya nggak percaya aku bisa hamil alami. Aku cuma ngabari suamiku via sms. Sampe rumah, kami hanya bisa berpelukan bahagia, semoga bayi ini rezeki kami, dan jadi kado terindah di hari ulang tahun perkawinan kami 17 September yang ke-7 tahun.

Jadwal kami pulang ke Indonesia adalah 24 Maret. Sebelum itu aku dicek semuanya, termasuk HIV dan lain-lain, dan, aku dapat tanda hamil dari Jepang yang udah lama kuidam-idamkan. Alhamdulillah

Sempat galau, jadi ke Tokyo atau nggak, akhirnya konsultasi ke dokter dicek semuanya, dan dinyatakan aman untuk terbang dan berperjalanan jauh. Alhamdulillah semua keinginan bisa tercapai. Aku nggak butuh penguat atau obat apapun, hanya vitamin  itu pun aku beli insiatif sendiri (di Jepang bumil nggak butuh vitamin, cukup dari makanan sayur buah, bahkan nggak ada susu khusus ibu hamil)

…….

Alhamdulillah bayiku lahir dengan selamat di Yogyakarta, 11 September 2017 jam 2.17 dini hari. Sampai sekarang rasanya masih belum percaya ada manusia yang aku kandung, yang lahir dari rahimku. Melihatnya, memandangnya menjadi kebahagiaan tersendiri buat kami.

 

2017-11-22 10.41.00.jpg
our baby boy 🙂

 

 

Buat teman-teman pendamba momongan yang masih dan sedang berikhtiar, kami doakan bisa hamil dan mendapatkan keturunan di saat yang terbaik menurut Allah. Tetap happy, berpikir positif, yakin suatu saat bisa hamil dan melahirkan, nikmati masa-masa pacaran, jangan sedih berlebihan maupun senang berlebihan. Semoga Allah memudahkan jalannya, aaaamiin.

 

Terima kasih sudah membaca ceritaku.

Salam dari kami bertiga

 

Iklan

4 respons untuk ‘Secuil Kisahku Untuk Para Pendamba Momongan

  1. Ikut nangis bacanya. . Ternyata sepertinya saya yang 1 tahun menikah belum hamil ini masih belum ada apa2nya dari segi waktu, proses, usaha untuk bikin Allah luluh. . .

    1. Semangat Lika, kalian pasti bisa melewatinya, suatu saat insyaAllah ada si kecil yang meramaikan rumah tanggamu. 1 thun masih periode sensitif, bismillah bisa 🙂

  2. terharu bnged baca nya,,, Allah gak akan pernah salah memberikan rejeki buat kita,, semua akan indah pd waktu yang tepat,, bgtu juga sy dan suami yg sedang berjuang mendapatkan momongan,, ternyata 3 th penantian kami gak sbnding dg kisah yg super duper dg proses lama dan panjang ini, trimakasih buat kisah indah ini,yg smakin mnguatkan sy.

    1. Hai retha. Masa masa penantian memang penuh rasa galau,cemas, dag dig dug deh. InsyaAllah harus yakin suatu saat bisa hamil dan punya anak sendiri. Semangat ya, ttp positif dan be happy. Suami istri hrs saling menguatkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s