Pengalaman di Negeri Sakura · Sekedar Info... · Uncategorized

Cerita tentang Rumah sakit di Jepang

Beberapa hari yang lalu, aku dapat kesempatan menemani temanku yang sedang melahirkan di sini. Ibu melahirkan ngga boleh ditemani suaminya. Jadi, pada saat jam besuk selesai (jam 8 malam) suami dan keluarganya harus pulang biar si ibu bisa istirahat. Perawat akan siap siaga 24 jam untuk membantu si ibu yang baru melahirkan. Tega? ya beginilah rumah sakit Jepang.

Suasana rumah sakitnya gimana?

  1. Saat jam buka rumah sakit (RSU, RSUD, RS swasta) banyak pasien yang datang. Semua sistemnya rapi, jadi waktu tunggunya ngga lama kayak di Indonesia.
  2. Ngga ada pedagang di luar rumah sakit, apalagi di dalam rumah sakit
  3. Ngga ada orang/keluarga pasien yang ‘ngemper’ di depan kamar pasien/bangsal
  4. Rumah sakitnya bersih, ada ruangan khusus untuk makan, atau sekedar menjenguk pasien. Jadi, pasien yang bisa jalan, dia bisa menemui teman yang menjenguk di ruangan khusus, dimana di tempat itu bisa ketawa ketawa, ngobrol, makan, dll.
  5. Keadaan di bangsal, di kamar pasien sangat sepi.. ngga boleh ada yang rame di dekat situ

 

Kalau orang Jepang pada nengok gimana?

  1. Nengoknya ngga rame-rame kayak di Indonesia, paling engga dua orang, jadi ngga berisik
  2. Bawa buah tangan juga, sama seperti kita
  3. Menurut pengakuan pasien yang dirawat di tempat teman kami dirawat, di Jepang jarang ada aktivitas besuk membesuk di rumah sakit.

_____________________

Rawat inap di Jepang, menuntut kita harus mandiri ( ya di Jepang apa apa kudu mandiri sih ya). Sebut saja Jamal, dia mengalami patah tulang saat latihan aikido, pak Wahid yang operasi ambil pen di tulang kakinya, ibu-ibu melahirkan yang harus mau ditinggal keluarga selama di RS..

mereka, datang ke rumah sakit sendiri, operasi sendiri, ngga ada keluarga yang menemani. dan, kita-kita inilah yang membesuk/menemani mereka. Kita masih membawa adat budaya menjenguk rame rame hehehe

waktu Jamal habis operasi, kita hampir tiap malam ke sana sampai jam besuk selesai. Kita bawain nasi, lauk, minum, kumpul di ruang ‘pertemuan’. Kakek yang sekamar sama Jamal sampe bilang wah senengnya banyak temennya, tiap hari party. Ha? party? wkwkwkwk well, makanan di rumah sakit ngga ada yang enak.. apalagi kalo di Jepang makanan jadi lebih terbatas. maka dari itulah kami membawa lauk pauk untuk dimakan bersama, yang diharapkan bisa menyenangkan hatinya sehingga mempercepat pemulihan hehehe…

 

20160524_185000
Jamal waktu operasi ambil pen. Jalan kaki sendirian ke rumah sakit sambil bawa koper

Kemarin, satu dari sekian ibu ibu di Sapporo melahirkan secara caesar. Ngga ada keluarga yang bisa datang ke Sapporo, jadi hanya ditemani suami sama anaknya yang belum berumur 2 tahun. Si sulung dititipkan ke aku. Untungnya kamarnya luas, dan hanya untuk satu orang, artinya, kita bisa bikin play ground di sana. Sore hari setelah operasi selesai, ada 3 orang datang menengok, ya, sambil bawa makan buat dimakan rame rame hehehe.. indahnya guyub. Hampir setiap hari ada aja yang jenguk. Sempet rame banget, ada 9 orang.. Perawatnya agak gimana gitu,.. meskipun kita sudah berusaha ngga berisik. Pernah suatu ketika perawatnya bilang ke temenku. “Bu, kalau ibu terganggu dengan suami dan putranya (yang belum 2 thn), silakan diminta pulang aja biar ibu bisa istirahat”.. Dijawablah sama temenku ” ada mereka saya tetep bisa istirahat kok”… temenku kesepian di RS, toh kelurganya bakal pulang jam 8 malam… ketat banget ya Jepang.. di satu sisi, aku setuju juga sistem seperti ini (membatasi pembesuk pasien), salah satunya untuk mengurangi kontaminan di RS..tapi ya namanya budaya membesuk ya, apalagi dalam islam pahalanya besar buat orang yang mengengok orang sakit…

 

20160818_154949
waktu rame-rame tilik bayi

 

20160816_135133
suasana lorong kamar ibu pasca melahirkan. Foto diambil jam 2 siang

 

20160816_140712
Ruang ‘pertemuan’ buat menemui ibu pasca melahirkan (tapi yang di RS ini tetep ga boleh berisik)

 

 

 

 

itu ceritaku. mungkin beberapa rumah sakit (apalagi swasta) di Indonesia juga sudah cukup bagus sistemnya ya. aku seneng banget kemaren waktu pulang Jogja, ngga ada lagi pedagang kaki lima di depan rumah sakit Sardjito… semoga rumah sakit di Indonesia lebih baik lagi…

maapkan kalau ceritaku ini ngalor ngidul😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s