medicine · Pengalaman di Negeri Sakura · Sekedar Info...

Swamedikasi (Pengobatan Sendiri) yang Akhirnya Nyerah Juga…..

Waktu itu, bulan lalu, aku kena flu berat sampai seminggu. Kayaknya awal mulanya, aktivitasku padat, makan nggak teratur, didukung kehujanan malam-malam, sampe rumah nggak langsung mandi keramas. Suhu udara waktu itu sekitar 18-20 derajad celcius bahkan lebih.

Pertama kali badannya kerasa nggak enak, langsung minum air jahe hangat plus madu, plus lemon. hampir tiap hari. Pilek pun tetep datang. aku minum Surbex T multivitamin setiap malam sebelum tidur, cuma dua hari sih, dan minum obat flu seperti Intunal Forte waktu ada gejala batuk juga. Hmmm… nggak mempan. Sempat demam juga, dan aku minum paracetamol, cukup sampai demamnya hilang. Aku minum obat-obat tersebut hanya berdasarkan gejala ya sodara sodara, dan ngga rutin. Aku banyakin makan sama istirahat. dan, batuknya pun makin parah. Kalau pas batuk, bisa sampai muntah, apa yang kumakan keluar lagi. Saat beraktivitas juga batuk batuk dan itu mengganggu sampai sakit daerah sekitar diafragmaku. Kadang sampe ngga bisa tidur. Oke, aku minum Mucohexin (isinya Bromhexin) , maunya Epexol (ambroxol) tapi ternyata dah ngga punya. Mempan? engga.

Setelah seminggu trial terus, akhirnya nyerah juga. aku ke klinik kampus dari pada nggak sembuh-sembuh dan terus-terusan pake masker. Di sana banyak yang sakit juga, memang lagi musim pergantian musim, banyak yang drop.

Ini nih health center campus yang gratis

Pintu Masuk Health Center Hokkaido University Japan
Pintu Masuk Health Center Hokkaido University Japan

Ketemu pak dokter, ku ceritain riwayat sakit beserta pengobatanku. Aku nulis banyak gejala di recordku, trus ditanya Sensei (dokter disebut juga Sensei). “Banyak amat ya gejalanya, saat ini, apa yang paling mengganggu?” tanya Sensei. ” batuk” jawabku. “ada lendir nggak?” “iya” “oke,coba tarik napas” dan, aku pun diperiksa. terus, jari telunjukku dimasukkan ke alat untuk tahu saturasi (kejenuhan) oksigen di paru-paruku (wow, canggih bener ya., apa akunya aja yang kudet?) alhamdulillah baik, oxygen saturation-ku lebih dari 93%, artinya, bukan pneumonia.

Terus si sensei coret-coret resep. “Ini ada 3 macam obat batuk, untuk 3 hari, kalo belum sembuh, kesini lagi ya”. Sayangnya, belom sempat kufoto resepnya, udah keburu diantar perawat ke Apoteknya. Yang kubaca, di resep pake katakana (kalo di tempat kita, resep dan aturan pakai ditulis dengan bahasa latin). Kalo yang ini, Nama Obat/ Jumlah tablet per hari/Aturan minum Sehari. Misalnya ムコダイン/3/3 maksudnya sehari  3 tablet, minumnya 3 kali sehari, jadi bakal dapet 9 tablet.

Kalau di Indonesia:

Ambroxol tab No X

S 3 dd 1 pc

Maksudnya 3 kali sehari 1 tablet setelah makan, jumlah obat yang kita dapatkan 10 tablet Ambroxol.

Nunggu obatnya nggak lama. Setelah itu dijelaskan cara minum obatnya. Ini ni obatnya

Mucodyn
Mucodyne
Troches
Troches
Astomin
Astomin

Mucodyne isinya carbocysteine, satu golongan dengan N-acetylcysteine  dengan merek Sistenol di Indonesia, fungsinya sebagai mukolitik, memudahkan pengeluaran dahak.

SP throces, isinya dequalinium chloride , sama aja kayak di Indonesia dengan merek yang sama (dari Meiji), dan sama kandungannya dengan Degirol, sebagai antiseptik tenggorokan. Ini tablet hisap.

Astomin isinya dimemorphan phosphate, obat ini beredar di Jepang, Spanyol dan Taiwan. fungsinya menekan batuk secara langsung pada pusat batuk di otak, menurunkan frekuensi batuk. obat ini turunan dari morphine , kalo di Indonesia mirip dengan dextromethorphan.

Pola peresepannya nggak langsung tembak dengan antibiotik. Obat yang diberikan adalah untuk gejala utama aja. Sembuh? alhamdulillah cukup minum dua kali saja. Keep healthy guys.

9 thoughts on “Swamedikasi (Pengobatan Sendiri) yang Akhirnya Nyerah Juga…..

    1. iya, apalagi intunal yang forte, tapi ya gitu deh, hehee
      hmm,, gak tau deh, bapak bapak paruh baya, pake jas putih, mungkin apoteker. yang jelas, apoteker di sini bisa ditemui di apotek (kusuriya- bukan drug store)

  1. assalamualaikum ,
    saya seorang mahasiswa S1 univ swasta di solo
    mbak farmasis ya? bagaimana caranya agar bisa ambil beasiswa farmasi di jepang ya mbak ?
    terimakasih, wassalamualaikum

    1. @prananingtyas: iya, saya farmasi. Kebetulan S2 nya di Jepang bukan Farmasi, tapi masuknya ke lab kimia… Saya dulu S1 Farmasi Klinik dan Komunitas, sampe skg kudu belajar lagi… disini susah karena masalah bahasa (kalau mau ambil farmasi klinik)
      temen saya yg farmasi, masuknya juga bukan di Farmasi tapi ada yang di agriculture, atau medicine… tapi insyaAllah ngga jauh jauh amat

      Pertama, kamu cari jurnal jurnal yang ingin kamu pelajari ke depannya… cari kontak professor dari jurnal itu, coba email ke professornya. Ada yang langsung dibalas, ada yang lama banget, ada yang engga dibales. Intinya, cari jurnal, dan berusaha hubungi professor kalo kamu tertarik dgn tema penelitiannya

      Setelah itu, misalnya professor oke, kamu sampaikan aja kalo kamu lagi nyari beasiswa, dan butuh LoA (letter of acceptance), sampaikan kalau kamu butuh LoA itu, harapannya professor bisa ngirim via email (scan)

      LoA inilah yang bisa dibuat apply (lebih kuat klo ada LoA) beasiswa, seperti LPDP.. coba LPDP krn peluangnya besar.

      kamu masih S1, jadi skrg kesempatan buat cari professor.., dan belajar TOEFL.. oya yang penting juga adalah surat rekomendasi dari dosen di Univ mu, kalau bisa, dari dekan atau orang yang jabatannya kuat, sampaikan kalau kamu ingin lanjut sekolah

      Good luck yaaa

  2. Kok kalau dilihat dr peresepan dokter jepang tsb agak kurang rasional ya. Mencampur mukolitik (pengencer dahak) dgn antitusif (penekan batuk) sbnrnya amatlah berbahaya. Karena sifat mukolitik adalah mengencerkan dahak dan mengaktifkan batuk agar dahak dapat keluar, tetapi apabila diberikan antitusif yang menekan batuk maka dahak yang encer tadi malah masuk ke paru2 yg dapat berakibat aspirasi dan infeksi saluran atas bagian bawah. Syukurlah ts mgkin dahaknya sedikit jd tdk berakibat fatal.

    1. @dokter gokiel iya, di Indonesia tadinya banyak obat-obatan yang dicampur antara mukolitik dan antitusif ya tapi sekarang udah mulai dipisah.
      saya minum obatnya waktu itu sesuai petunjuk dokter dan alhamdulillah ngga ada efek yang ngga diinginkan.
      obatnya beneran manjur , habis minum mucodyn dahaknya lebih mudah dikeluarkan
      terima kasih atas komennya ya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s