Lentera Islami · Pengalaman di Negeri Sakura · Uncategorized

Ramadhan di Kampungku

Alhamdulillah ini ramadhan tahun kedua aku ada di kampung Kumamoto. Sekarang sedang musim panas, di mana suhu di siang hari bisa mencapai 44 derajad celicius.. subhanallah bukan?? melebihi suhu tubuh kita… malam hari aja 30 derajad. Sudah saatnya sering nyalain AC meskipun masih sering juga nggak tega sama makin besarnya muatan listrik karenanya..

Rasa-rasanya tahun lalu nggak sepanas ini, meskipun panas juga..atau sugesti aja ya? Tahun lalu ramadhan juga pas di musim panas. Di Kampungku, subuh jam 3.50 menit, sedangkan maghrib jam 19.20.. subhanallah.. panjang waktunya , didukung cuaca terik panas. Dua hari di minggu kemaren aku sempat hampir teler, meskipun aku naik bus ke tempat les, sampe rumah langsung pusing, tapi Alhamdulillah sekarang baik-baik aja.

Orang Jepang nggak mengenal puasa, tapi ada bahasa Jepangnya untuk puasa, yaitu danjiki. Waktu aku tanya ke sensei, kenapa kok ada bahasa Jepangnya padahal orang Jepang nggak melakukannya? Kata sensei : itu untuk orang yang agama Buddha (bahasa Jepang: Bukyo), (sepenangkapanku adalah biksu atau semacam pengurus kuil), mereka ada puasa. Oh ya, ya, orang Jepang ada juga yang menganut agama Buddha.

Hampir semua orang Jepang langsung kaget dengan puasa agama Islam yang nggak boleh makan dan bahkan minum seteguk air pun. Minggu kemaren aku ditelpon Yamada sensei yang penyayang itu, dia tanya “sehat? Take care ya”.. baiknya… dalam hatiku : emangnya puasa bikin bahaya ya? Hehehe..mungkin beliau khawatir sama cuaca yang seperti ini. Besoknya ketemu sensei di les kanji. Dia sama sekali nggak minum, nggak seperti yang biasa dilakukannya.

Aku cerita tentang Ramadhan di kampungku di Indonesia kalau hampir semua restoran ditutup kain gorden saat siang hari, untuk menghormati yang sedang berpuasa. Kata sensei “ di sini nggak begitu ya, pasti berat” aku bilang “ gak papa sensei, kata Tuhan saya, orang berpuasa itu banyak pahalanya, kalo ada orang yang makan atau minum di depan kita dan kita tetap puasa, kita justru dapet tambahan pahala”

Banyak juga yang tanya apa aku nggak kepanasan dengan memakai jilbab. Ya pasti panas, tapi aku jawab “banyak jenis kain yang digunakan untuk jilbab, kita bisa memilih bahan yang nyaman untuk dikenakan saat musim panas, apalagi di Indonesia hanya ada musim panas, jadi ya relatif nyaman…” nggak menjawab yaa,, hehe..semoga Allah mengampuniku.

Sampai saat ini masjid Kumamoto belum jadi. Shalat tarawih hanya bisa dilakukan bapak-bapak di musholla kampus yang biasa digunakan untuk sholat Jumat. Perempuan ya sholat di rumah. Setiap Sabtu kami ada buka dan tarawih bersama seluruh muslim di Kumamoto, tempatnya di asrama kampus. Ada orang Bangladesh, Indonesia, Malaysia, Jepang, Mesir, Arab, Kamboja dan lainnya. Sistem buka barengnya adalah masing-masing kita membawa apa yang kita punya untuk di bagi bersama. Sungguh, indah rasa berbagi itu. Semoga masjid Kumamoto segera terwujud, jadi ada tempat untuk ibadah berjamaah..

Calon Masjid Kumamoto

Beberapa kali, temen-temen deket juga mengadakan buka bersama. Alhamdulillah, saat jauh dari keluarga, kumpul keluarga di sini juga jadi hiburan tersendiri. Kemaren kami buka bersama sekaligus melepas adek kami *semua jadi kakak adek, Merry chan yang selanjutnya akan pulang ke ITS dan menyelesaikan S1 nya.

Happy fasting buat semuanya🙂

3 thoughts on “Ramadhan di Kampungku

  1. @ Aanmamesa21 : Yoi.. panas buangget.. amiiin..tetap semangat juga ya..

    @ mbak Ika : rasanya natsu sekarang lebih panas ya? hehe…senangnya mamadhinar yang sibuk bisa meluangkan baca ceritaku yang panjang.. arigatou mamadhinar🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s