Uncategorized

Apakah Kau Tak Mengharapkannya?

Tulisan ini kutulis sebagai bentuk rasa prihatin dan sedihku atas kenikmatan ada pada seseorang tapi tidak disyukurinya… aku sedih… saat melihat wanita nggendong bayi kayak bawa barang… aku sedih… saat melihat wanita cuek dengan anaknya yang masih kecil… aku sedih… saat melihat anak kecil gak disayang ibunya, aku sedih… saat melihat bayi mungil yang masih merah dibiarkan begitu saja.. aku sedih.. saat melihat bayi seperti tak diharapkan orang tuanya…

Ohh… sungguh, tidakkah kalian wahai para wanita, tidak menginginkannya? Tidakkah kau mengharapkan anakmu? Aku mencermatinya di sini, mungkin di Indonesia juga banyak hal seperti ini, cuma mungkin karena aku setelah menikah hidup di sini dan banyak memperhatikan semua hal di sini… dan, yang jelas, aku sungguh sangat menginginkan punya anak, hanya Allah Yang Maha Tahu alasannya mengapa hingga sekarang belum juga memberiku dan suami kenikmatan sekaligus amanah yang berat untuk kami…

Sungguh tak mengerti… kenapa ya begitu.. yang gak mengharapkan anak malah cepet punya anak, sementara yang pingin punya anak tidak mudah untuk mendapatkannya. Begitu dapat anak, mengapa kau sia-siakan? Sedih rasaku… yang paling baru, aku melihatnya waktu aku nunggu antrian ganti alamat rumah di kecamatan Kumamoto, aku nunggu dipanggil. Saat itu aku melihat 2 orang perempuan yang satu tua yang satu masih agak muda membawa sesuatu, di selempangkan di lehernya.. ternyata bayi mungil,,, masih merah.. aku melihat mereka duduk untuk ngisi formulir, dan bayi mungil itu diletakkan di atas meja!! busyyeeeettt!!! bayi masih merah gitu ditaruh di atas meja.. emangnya apaan?? tidakkah kau mensyukuri bayimu itu wahai perempuan? Kenapa tak kau berikan pada wanita tua yang datang bersamamu? Aku rasa sih itu ibunya, gak tua tua banget, mestinya bisalah nggendong bayi… kasihan kamu nak… andaikan aku bisa dan boleh menyentuhmu… setelah selesai menulis, si ibu muda antri, si bayi ditunggui sama neneknya, tetap di atas meja,,.. meja kaca lhooo…. meskipun di dalam gendongannya ada alas, tapi tetep aja menurutku bayi mungil itu butuh kehangatan..

Pernah juga bayi merah ditaruh di kereta bayi, si ibu sibuk dengan mbak mbak, anggap aja teller. Nah si bayi nangis, si ibu cuma menggoyangkan kereta bayinya. Bayi itu masih nangis, malah tambah kenceng, haus mungkin yaa,,, wah wah,, si ibu yang sendirian itu bukannya ambil anak dari kereta tetep aja cuma menggoyangkannya.. bayinya masih meraahh… huuu cayaaannng…

Ya Allah sungguh, semuanya akan Kau pertanyakan di hari akhir nanti, meskipun mereka semua bukan urusanku, tapi rasanya aku gak bisa melihat mereka seperti itu.. wahai para wanita yang mendapat anak tanpa meminta… syukurilah apa yang kau miliki, sesuai keyakinanmu seperti apa dan bagaimana caranya…

Di sini aku melihat banyak wanita yang bawa anaknya tanpa suaminya, entahlah memang sibuk atau gimana.. ya, di sini sebagian orang merasa anak itu beban, pantes aja dokter obsgyn yang kudatangi kaget saat aku bilang aku ibu rumah tangga, suamiku pelajar, kami ingin punya anak..bayangannya dari segi ekonomi tuh “nggak banget” malah pengen punya anak.. Semoga aku bisa lebih istiqomah dan qonaah, amiiiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s